1. What is the Architecture Post-Modern ?
“Less is bore”
Merupakan sebuah prinsip yang diterapkan dalam arsitektur Post-Modern. Salah satu alirannya yaitu aliran ‘brutalisme’ yang dianut oleh beberapa arsitek, salah satunya adalah arsitek Paul Rudolph pada bangunannya Gedung Dharmala, di Surabaya. Namun karena adanya pro dan kontra dari beberapa pihak, bangunan ini belum seratus persen dapat dikatakan sebagai sebuah bangunan dengan aliran brutalisme.
Pertanyaan apakah yang disebut dengan Arsitektur Post-Modern itu hingga saat ini belum dapat dijawab dengan pasti. Namun beberapa definisi telah dikemukakan oleh para ahli untuk mempermudah pemahamannya.
§ Reaction against Modern Architecture
o Sebuah reaksi yang dimaksudkan di sini adalah adanya beberapa hal yang dianggap salah pada arsitektur Modern, sehingga arsitektur Post-Modern menganggapnya sebagai sebuah koreksi terhadap hal-hal yang salah, dan hanya mengambil hal-hal yang dianggap benar saja.
o Perbedaan karakter yang sangat mencolok pada Modernisme dan Post-Modernisme yaitu, pada karakter Modernisme, karakternya seragam, singular, dan tunggal. Sangat berbeda dengan karakter Post-Modernisme yang karakternya beraneka ragam, plural, dan bhinneka.
§ Freedom of Interpretation
o Arsitektur Post-Modern kini sudah lebih bebas dari sebelumnya, arsitektur Modern. Post-Modernisme menyatupadukan art dan science, Craft dan Technology, Internasional dan Lokal, serta mengakomodasikan kondisi-kondisi paradoksal dalam arsitektur.
o Craft and Technology. Bangunan-bangunan Post-Modernisme kini jauh lebih bervariasi dengan perpaduan Craft (kerajinan) dan Technology (teknologi) yang lebih komplit. Bangunan-bangunan ini tidak lagi berpatokan pada bentuk-bentuk geometris lagi seperti kubus dan lingkaran, melainkan dapat berbentuk gelombang yang strukturnya harus mengikuti bentuknya, juga dapat berbentuk trapesium maupun bangunan-bangunan bersudut lancip lainnya yang akhirnya justru membuang volumenya sendiri karena sudut-sudut lancip seperti itu tidak dapat digunakan sebagai jalur lalu lintas kegiatan manusia.
o International and Local. Rancangan pada bangunan Post-Modern mengandung nilai-nilai lokalitas dengan pencampuran nilai-nilai internarional, sehingga menghasilkan perpaduan estetis antara nilai internasional dan nilai lokalnya.
§ Playing with History
o Post-Modern merupakan pengulangan kembali bentuk-bentuk pada bangunan di era 1890-1930an.
§ High-Tech on display and eksposed the structures
o Kecanggihan yang dimiliki oleh bangunan-bangunan Post-Modern kini tidak lagi disembunyikan di balik kemegahan gedungnya, melainkan justru ditampilkan di luar gedung. Struktur bangunannya pun diekspos sedemikian rupa sehingga walaupun bangunan tersebut terlihat begitu rumit, namun nilai estetisnya tetap ada. Hal ini menyebabkan kita tidak lagi bertanya-tanya tentang bagaimana struktur dan kecanggihan teknologi sebuah bangunan, melainkan kita dapat mengetahui semuanya hanya melalui tampilan luar dari bangunan tersebut.
Salah satu nama yang keluar ketika membahas kajian arsitektur Post-Modern ini adalah Frank Gehry, seorang arsitek terkenal.
2. Who is Frank Gehry ?
Disebutkan bahwa Frank O. Gehry, seorang Amerika, adalah arsitek eksentrik yang memiliki gaya / style-nya sendiri. Karya-karyanya begitu berbeda dengan karya-karya arsitek lainnya. Disebutkan pula bahwa Frank Gehry adalah seorang arsitek yang jenius, yang mampu membuat semua desain bangunannya menjadi kenyataan, dengan struktur dan kecanggihan teknologi yang sangat kompleks.
Gehry menyadari bahwa untuk menjadi seorang arsitek yang paling berseni dan kreatif dalam bidang arsitektur Post Modern, dia harus mampu mengkontraskan ruang antar ruang, material-material, dan berbagai bentuk untuk membuat sesuatu yang tidak biasa, sebuah pekerjaan seni yang hidup. Beberapa karyanya yang telah dikenal di seluruh dunia, antara lain Walk Disney Concert Hall di Los Angeles, The Guggenheim Museum, Bilbao, dan Fishdance Restaurant di Kobe, Jepang.
Dalam kajian kali ini akan saya bahas salah satu karya seni dari Frank Gehry yang tergolong masih baru, yaitu the Golden Fish, di Barcelona.
3. Peix D’Or (The Golden Fish)
The Golden Fish. Banyak orang telah melihatnya. Patung ikan raksasa, berukuran 35 m x 54 m yang didatangkankan dari impian dan imajinasi Frank Gehry akan bentuk dan daya tarik seekor ikan. Posisi ikan yang melihat ke luar ke arah laut sudah sangat tepat. Patung ikan ini terbuat dari batu, logam, dan kaca, dan menarik semua perhatian orang dengan lapisan metalnya yang bersinar dan berubah warnanya oleh sinar matahari.
The Golden Fish terletak di depan Arts Hotel, yand dibangun untuk olimpiade pada tahun 1992.
4. Analisis Desain
“Go to metrostation ‘Barcelonata’, go at
the beach and then you will see the fish......”
Sebuah patung raksasa berbentuk ikan berlapiskan metal yang dapat
berubah warna jika terkena sinar matahari ini sudah pasti menarik perhatian
banyak orang. Mengapa harus ikan ? Pada sebuah kepercayaan masyarakat di Cina,
ikan dapat memberikan ketentraman dan ketenangan batin bagi orang yang
melihatnya. Beberapa pakar mengatakan bahwa dengan melihat gerakan seekor ikan
yang meliuk-liuk dengan indahnya di kolam dapat membawa dampak positif bagi
faktor psikologis seseorang.
Golden Fish atau ikan emas yang merupakan perwujudan langsung dari imajinasi Frank Gehry ini memadukan bentukan melengkung yang ‘maluma’ dengan bangunan Arts Hotel di belakangnya yang masif dan ‘takete’. Frank Gehry dengan cerdasnya memadukannya agar bukan saja dua bangunan ini menjadi ‘satu’, melainkan juga memiliki nilai-nilai estetis dan saling dapat saling menonjolkan daya tarik dari masing-masing bangunan tersebut.
Ikan emas hasil khayalan Frank Gehry ini diwujudkan dalam bentuk melengkung yang lembut dan menghadap langsung ke arah laut. Ini juga merupakan salah satu alasan kenapa Frank Gehry menggunakan patung ikan, bukan patung binatang mamalia darat maupun binatang petelur udara lainnya.
Lalu mengapa harus ikan emas ?
Jawaban dari pertanyaan ini mungkin juga ada sangkut pautnya pada bangunan di belakangnya, yaitu Arts Hotel. Hotel pencakar langit berbintang lima yang memiliki 42 lantai, 450 kamar hotel, dan gaya dekorasi, pelayanan, dan segala furniture yang sesuai dengan namanya, mendominasi area di sekitarnya, terlebih pantai yang sangat panjang dengan barisan pohon kelapa yang berjajar rapih. Ruangannya didekorasikan dengan warna putih dan warna-warna netral lainnya. Kamar-kamar hotel ini menyediakan pemandangan langsung ke arah laut dengan biaya 270.00 EUR per malamnya.
Tentang tata perletakannya, Frank Gehry telah memilih tempat yang sangat tepat, yaitu di pantai (tepi laut) yang merupakan habitat ikan itu sendiri, di belakang Arts Hotel dengan 42 lantai yang sangat serasi dengan ukuran ikan tersebut. Patung ini diletakkan di atas pelataran sangat luas yang langsung menuju laut, di mana pelataran tersebut juga dijadikan tempat wisata.
Citra eksklusif yang dihadirkan dalam patung ikan ini yaitu ada pada perpaduan material-materialnya yang mampu berpendar. Perpaduan antara batu, logam, dan kaca ini sudah tentu menimbulkan kesan eksklusif, terlebih lagi dengan adanya warna keemasan pada gelombang laut. Patung ikan emas berpendar ini sudah tentu menarik banyak perhatian tiap orang yang melewatinya, yang melihatnya dari kejauhan, bahkan orang-orang yang hanya melihatnya dari media massa saja.
5. Kesimpulan
Arsitektur Post-Modern telah membawa kita ke sebuah dunia baru di mana semuanya tidak perlu segaris lurus dengan garis yang sudah ada. Post-Modernisasi telah membantu kita dalam merancang bangunan-bangunan unik dan berbeda dari biasanya dan mewujudkannya dalam dunia nyata. Merancang bangunan boleh saja unik dengan bentuk yang tidak biasa, akan tetapi kita tidak boleh meninggalkan begitu saja strukturnya. Bangunan unik sudah pasti memiliki struktur yang rumit pula. Justru nilai estetisnya akan semakin meningkat apabila kita mampu mengekspos bagian strukturnya di luar bangunan yang kita bangun tersebut, sebab arsitektur Post-Modern tidak lagi mengkungkung kita dalam struktus yang itu-itu saja dan tersembunyi.
Kekhawatiran akan ditolaknya rancangan kita karena terlalu ‘tidak biasa’ kini sudah hampir tidak ada, karena Post-Modernisasi membantu kita menyelesaikan masalah yang satu ini. Oleh sebab itu, seharusnya kita mampu untuk lebih mengeksprssikan diri kita melalui bangunan-bangunan yang ada dalam imajinasi kita, yang mengantri untuk dikeluarkan setiap saat.
Seperti Frank Gehry yang menjadi seorang arsitek terkenal akibat rancangannya yang berbeda, unik, sekaligus mengagumkan, seharusnya kita pun banyak belajar dari dia. Bukan saja belajar untuk menjadi ‘bebas’ yang sebebas-bebasnya, melainkan kita juga harus banyak lagi mempelajari struktur-struktur yang mengikuti lekukan bentuk dari bangunan rancangan kita itu.
The Golden Fish memberikan inspirasi pada kita akan patung raksasa berpendar yang pasti akan menarik perhatian khalayak ramai. Strukturnya yang rumit itu pun membuat kita kembali berpikir untuk kembali mempelajari hal-hal yang belum kita ketahui. Ide tentang ikan emas yang ditempatkan menghadap laut itu sangat jenius, karena kita dapat melihatnya serta memadukannya dengan keindahan warna keemasan dari laut.
[this is good] This rather valuable message
Posted by: Archibald Becnel | Saturday, May 01, 2010 at 09:20 AM